Kemarin lusa aku kembali mendapat
kesempatan untuk menengok satu bagian terindah yang bumi miliki: pantai. Aku suka
pantai. Debur ombak yang menerjang karang, butir-butir pasir putihnya, aroma
asin airnya, angin yang tiada lelah berhembus, awan putih bersih yang terus
beriringan, langit jernih luas yang terhampar, serta bulat matahari jingganya. Dan
tentu saja aku suka (mengunjungi atau berada di) pantai dengan si angkasatu. Kunjunganku
kemarin sebenarnya merupakan ajakan si angkasatu. Entah ada angin apa, ia
mengajakku ke utara sana.
Ini bukan kali pertama aku dan si
angkasatu berada di ujung pulau. Namun bagiku, hal ini selalu menjadi kali
pertama aku mengenal sosok si angkasatu lebih dekat lagi, melalui pantai. Hal terbaru
yang aku tangkap dari si angkasatu adalah bahwa ia ternyata tidak suka angin
pantai, bikin masuk angin, katanya. Lucu memang si angkasatu ini.
Sebenarnya di sana pun tidak
banyak komunikasi yang aku dan si angkasatu lakukan. Aku sibuk menikmati
hamparan air dan awan yang berhias matahari bulat jingga di hadapanku,
sementara si angkasatu sibuk dengan catur digitalnya. Aku tahu angkasatu mulai
bosan. Namun apa boleh buat, aku masih mau melepas rinduku dengan potongan alam
ini. Maafkan keegoisanku ya, angkasatu. Mengorbankanmu hanya agar sebagian
kecil rinduku akan alam ini terobati.
Angkasatu mulai mengeluh
kedinginan. Sudah terlalu sore. Hampir magrib kala itu. Sejenak aku perhatikan
raut wajahnya. Ia mulai cemberut. Bibirnya agak sedikit manyun. Dan ia agak
sedikit memucat. Rambutnya yang terombang-ambing oleh angin kembali ia rapikan.
Aku tahu ia sudah tak tahan lagi. Aku bangkit dari tempat dudukku, membalik
arah tubuhku, dan mengajaknya untuk kembali.
Ia sempat melontarkan sebuah
kalimat, buah dari ajakanku untuk kembali, “orang udah masuk angin dari tadi..”,
dan ia berhasil membuatku tersenyum getir, ketika beranjak meninggalkan
kerinduanku. Sekali lagi, maafkan aku, angkasatu. Aku terlalu rindu justru pada
angin-angin ini, angin-angin yang ternyata melukaimu. tapi tak apa, rinduku
pada pantai sudah cukup terobati. Rinduku pada pantai dengan si angkasatu,
terpenuhi. Tinggal rinduku pada si angkasatu saja yang harus tunai hari itu.
Tidak. Aku salah. Rinduku pada si
angkasatu ternyata tak bisa dimusnahkan hari itu juga. tak akan pernah bisa diobati.
Rinduku pada si angkasatu ternyata terlalu bebal untuk ditaklukkan.
Satu hela napas tercipta ketika
aku melontarkan harapku ini dalam hati: semoga si angkasatu tidak lelah
menghadapi rindu semata wayangku yang liar ini.
Ayo, ke pantai lagi, angkasatu!
*note: kenapa nama tokohnya 'angkasatu' yak? hmm...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar